Daun Perjuangan Siti Embusan angin pagi di pinggiran desa selalu membawa aroma tanah basah yang sangat akrab di penciuman Siti. Gadis kecil berusia 13 tahun itu sudah berdiri tegak di bawah pohon pisang setinggi rumahnya saat langit masih berwarna keunguan. Di tangan kanannya, sebilah pisau dapur kecil yang sudah agak berkarat digenggamnya erat. Dengan gerakan yang sangat cekatan, tangan mungilnya memotong pelan pelepah daun pisang, menjaganya agar tidak robek sedikit pun. Baginya, setiap lembar daun hijau yang segar itu adalah penyambung napas hidupnya dari hari ke hari. Tepat satu tahun lalu, dunia Siti seolah runtuh tanpa sisa hingga tidak ada lagi tempat baginya untuk mengadu. Ayahnya, satu-satunya pelindung dan tempatnya bersandar, meninggal dunia akibat sakit keras yang tak mampu mereka obati karena ketiadaan biaya. Belum kering tanah makam sang ayah, ibunya justru memilih pergi meninggalkan desa bersama seorang pria asing yang tak dikenal. Sang ibu berjanji akan menje...
Komentar
Posting Komentar