DAUN PISANG, PERJUANGAN SITI

Daun Perjuangan Siti

 



Embusan angin pagi di pinggiran desa selalu membawa aroma tanah basah yang sangat akrab di penciuman Siti. Gadis kecil berusia 13 tahun itu sudah berdiri tegak di bawah pohon pisang setinggi rumahnya saat langit masih berwarna keunguan. Di tangan kanannya, sebilah pisau dapur kecil yang sudah agak berkarat digenggamnya erat.


Dengan gerakan yang sangat cekatan, tangan mungilnya memotong pelan pelepah daun pisang, menjaganya agar tidak robek sedikit pun. Baginya, setiap lembar daun hijau yang segar itu adalah penyambung napas hidupnya dari hari ke hari. Tepat satu tahun lalu, dunia Siti seolah runtuh tanpa sisa hingga tidak ada lagi tempat baginya untuk mengadu.


Ayahnya, satu-satunya pelindung dan tempatnya bersandar, meninggal dunia akibat sakit keras yang tak mampu mereka obati karena ketiadaan biaya. Belum kering tanah makam sang ayah, ibunya justru memilih pergi meninggalkan desa bersama seorang pria asing yang tak dikenal. Sang ibu berjanji akan menjemput Siti jika sudah sukses dan hidup mapan di kota besar.


Namun, hingga detik ini, janji manis itu menguap begitu saja bersama debu jalanan yang gersang. Siti ditinggalkan sebatang kara di gubuk peninggalan ayahnya yang mulai lapuk dimakan usia.


"Siti, hari ini bawa berapa ikat ke pasar?" tanya Mak Salmah, tetangga sebelah rumah yang selalu menaruh rasa kasihan melihat nasib malang anak itu. "Hanya lima ikat, Mak. Pohon pisang di belakang rumah sudah banyak yang gundul dan menguning," jawab Siti sambil tersenyum tipis, berusaha keras menyembunyikan rasa lelah yang menggelayuti matanya.


Seragam pramuka yang ia kenakan hari itu tampak sedikit kusam dan warnanya mulai pudar, namun tetap terlihat rapi karena disetrika dengan hati-hati.


Hari itu adalah hari Sabtu, waktunya ia bergegas berjualan keliling sebelum siang hari pergi ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang wajib dihadirinya.


Siti tidak pernah mau bolos sekolah, karena ia tahu hanya pendidikan yang bisa mengubah nasibnya di masa depan. Siti mulai menggendong tas kain lusuh yang berisi gulungan daun pisang hasil tangannya sendiri.


Langkah kaki kecilnya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis mulai menyusuri jalanan berbatu menuju pasar kecamatan yang berjarak tiga kilometer.


Matahari perlahan naik, memancarkan panas yang mulai membakar kulit ari anak seumurannya. "Daun pisangnya, Bu? Segar-segar, baru dipetik tadi subuh sebelum ayam berkokok," seru Siti dengan suara yang sedikit bergetar menahan rasa lapar yang teramat sangat.
Sejak semalam, perutnya sama sekali belum menyentuh nasi dan hanya diisi dengan beberapa teguk air putih untuk mengganjal rasa perih.


Beberapa orang yang berlalu lalang di pasar hanya menengok sekilas lalu lewat begitu saja, mengabaikan tubuh kecil yang peluh dan kepanasan itu. Namun, Siti tidak mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya. Di kepalanya hanya ada satu pikiran yang terus berputar: ia harus bisa makan hari ini agar tubuhnya tidak tumbang dan bisa terus melanjutkan sekolah. Ia ingin membuktikan kepada dunia, dan terutama kepada ibunya yang pergi entah ke mana, bahwa ia bisa bertahan hidup dengan cara yang jujur dan terhormat tanpa harus mengemis belas kasihan orang lain.


Menjelang siang, saat tenaganya hampir habis dan kepalanya mulai terasa pening, dewi fortuna akhirnya berpihak pada Siti. Seorang wanita pemilik warung makan tenda yang cukup besar melihat Siti yang sedang duduk kelelahan di emperan toko. Wanita itu merasa iba sekaligus kagum melihat kegigihan Siti, lalu memutuskan untuk memborong seluruh daun pisang yang dibawanya untuk keperluan membungkus nasi uduk dan jajanan pasar.


Uang lembaran sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan agak kotor berpindah ke tangan Siti yang gemetar. Air matanya hampir saja menetes di tengah keramaian pasar saat menerima uang tersebut. Uang yang mengalirkan rasa syukur luar biasa ke dalam dadanya, karena itu berarti ia bisa membeli sebungkus nasi hangat dan sebutir telur dadar untuk makannya hari ini.


Rasa lapar yang menyiksa sejak pagi seketika berganti dengan secercah kebahagiaan yang sederhana. Sambil berjalan pulang menuju gubuk reotnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah, Siti menengadah memandang ke arah langit biru yang membentang luas.


Beban di pundak kecilnya memang terasa sangat berat dan tidak adil untuk anak seusianya, tetapi di dalam hatinya telah tertanam satu tekad yang sangat kokoh sekeras batu karang. Air mata kesedihan tidak akan pernah bisa mengenyangkan perutnya yang lapar, dan meratapi nasib buruk tidak akan pernah mengubah keadaan hidupnya. 


Dengan seikat daun pisang yang tersisa dan harapan yang terus menyala di dada, Siti berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah berhenti melangkah maju menantang kerasnya dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menakar Keabsahan Syarat Cawapres: Bedah Yuridis Sidang Lanjutan di Mahkamah Konstitusi